Workshop Pengembangan Kurikulum 13 Bermuatan Mitigasi Bencana

DIKPORA – Dunia pendidikan di Kabupaten Lombok Utara sedikit demi sedikit mulai berbenah, tidak hanya fokus pada infrastruktur termasuk juga dalam elemen mutu pendidikan lainnya. Membahas mutu pendidikan, tentu tidak lepas dari delapan standar pendidikan yang harus dan mau tidak mau harus diperhatikan keberadaannya. Standar ini merupakan hal yang harus dicapai bersama agar kemajuan pendidikan menjadi lebih massif. Salah satu upaya yang dilakukan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Lombok Utara adalah mengadakan workshop untuk pengembangan Kurikulum 2013 agar bermuatan mitigasi bencana. Hal ini dianggap penting mengingat labilnya posisi Lombok Utara dalam konteks Geologis.

 

Berbicara tentang mitigasi bencana, tentu yang dimaksudkan di sini bukan hanya bencana alam (gempa bumi) tetapi berbicara bencana secara global. Dengan kegiatan ini nantinya diharapkan agar dunia pendidikan dapat menjadi peletak dasar pemahaman tentang mitigasi bencana pada pesert didik. Selanjutnya, dalam waktu dekat Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga juga akan mulai menginisiasi pembentukan kelompok belajar ekstrakurikuler bagi siswa dalam format SIPENA (Siswa Peka Bencana). Dibentuknya SIPENA mengandung harapan besar, agar siswa benar-benar memahami dan terlibat aktif dalam aktivitas mitigasi bencana. Dalam kerangka pikir yang lebih luas, aktivitas yang dilakukan anak (siswa) diharapkan mampu menginspirasi masyarakat untuk melakukan aktivitas sejenis.

Selama ini masyarakat hanya diberikan warningjika ada bencana datang tanpa ada edukasi memadai mengenai langkah-langkah kesiapan dan prosedur menghadapi bencana itu. Padahal, edukasi kebencanaan dinilai amat penting untuk penyiapan mental dan kesadaran publik dalam melakukan tindakan-tindakan cepat pada saat dan sesudah bencana terjadi. Edukasi juga dapat meminimalisir korban jiwa karena masyarakat akan memperoleh pemahaman tentang penyelamatan jiwa saat bencana itu terjadi. Intinya, eukasi kebencanaan adalah sebuah keniscayaan. Lebih-lebih bagi masyarakat yang berada dalam wilayah rawan bencana. Sikap antisipatif dan partisipatif menjadi kunci keberhasilan mengedukasi masyarakat akan bahaya bencana.

 

Di sisi lain, Pemerintah Daerah Lombok Utara melalui DIKPORA menyelenggarakan kegiatan ini dengan dasar keluwesan kurikulum, bahwa pemerintah juga dapat memasukkan program edukasi kebencanaan ke dalam kurikulum lokal mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak hingga SMU sehingga pemahaman tentang mitigasi bencana ini dipahami lebih dini. Bagaimana pun salah satu korban terbesar bencana alam seperti gempa bumi adalah anak-anak usia sekolah sehingga edukasi bencana menjadi penting bagi mereka. Tentu saja edukasi yang diberikan kepada anak sekolah harus diajarkan dengan cara penuh kesabaran mengingat mereka belum memiliki kepribadian yang stabil. Metode permainan (games) dan simulasi ringan dapat merangsang anak-anak usia sekolah untuk memahami lebih jauh tentang pentingnya mitigasi kebencanaan ini.

 

Mengingat sekolah sebagai unit pelaksana pendidikan formal dengan berbagai keragaman potensi anak didik yang memerlukan layanan pendidikan yang beragam, kondisi lingkungan yang berbeda satu dengan yang lain, maka sekolah dituntut untuk dinamis dan kreatif dalam melaksanakan perannya. Dalam hal ini akan dapat dilaksanakan jika sekolah dengan berbagai keragamannya itu diberikan kepercayaan untuk mengatur dan mengurus dirinya sendiri sesuai dengan kondisi lingkungan dan kebutuhan anak didiknya. Dengan kata lain, perlu adanya otonomi yang luas kepada sekolah untuk dapat mengurusi dirinya sendiri. Kurikulum Pembelajaran Bermuatan Mitigasi Bencana, yang akan diupayakan Pemerintah Daerah Lombok Utara melalui Dinas Pendidikan pemuda dan Olahraga Kabupaten Lombok Utara memberi peluang maksud tersebut.

 

Kebijakan Pengembangan Kurikulum 2013 Bermuatan Mitigasi Bencana di Lombok Utara terkait erat dengan serangkaian program dan kegiatan yang bertujuan untuk menciptakan sekolah yang mampu memiliki wawasan tentang lingkungan hidup dan mitigasi bencana, serta memunculkan masyarakat yang peduli terhadap lingkungan, tanggap bencana melalui pendidikan di sekolah dengan memaksimalkan perilaku penghidupan di lingkungan masyarakat. Semoga ….. 

#FF

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *