Urgensi Evaluasi dalam Pembelajaran

DIKPORA – Evaluasi merupakan kata yang secara harfiah dapat dipahami sebagai penilaian. Dari sisi terminologis dibuat definisinya dalam berbagai perspektif, yang paling sering dikemukakan adalah konsep evaluasi sebagai suatu proses sistematik untuk mengetahui tingkat keberhasilan sesuatu. Sistematik yang dimaksud adalah menilai sesuatu secara terencana dan terarah berdasarkan tujuan yang jelas dan hasilnya dapat dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan. Istilah ini tidak sering dipertukarkan dengan istilah measurement (pengukuran). Padahal konsepnya sudah jelas, evaluasi menjawab pertanyaan tentang “what value”, sementara pengukuran menjawab pertanyaan “how much”.

 

Kalimat pertama Stiggins (1992) dalam ITEMS (Instructional Topics in Educational Measurement) adalah the quality of instruction is a function of teachers’ understanding of the strengths and weaknesses of their students. Kualitas pembelajaran merupakan penentu terhadap pemahaman guru terhadap kekuatan dan kelamahan peserta didiknya. Pernyataan ini juga sekaligus menjadi isyarat kuat bahwa dalam konteks pendidikan, evaluasi merupakan salah satu kegiatan utama yang harus dilakukan guru dalam kegiatan pembelajaran. Dengan penilaian, guru akan mengetahui perkembangan hasil belajar, intelegensi, bakat khusus, minat, hubungan sosial, sikap dan kepribadian peserta didik. Guru juga dapat memahami efektivitas metode pembelajaran yang digunakan termasuk memberikan feedback hasil pembelajaran kepada anak.

 

Guna mewujudkan hal tersebut, prasyarat yang harus dipenuhi dibahasakan Stiggins dalam akhir paragraf … sound instruction requires the sound classroom-level assessment of student achievement. Pembelajaran yang berkualitas tergantung sangat pada penilaian kelas yang berkualitas pula. Karakter utama penilaian kelas yang berkualitas adalah penilaian kelas yang dapat berfungsi sebagai assessment for learning yang harus diimbangi dengan assessment of lerning untuk mengetahui hasil pembelajaran secara menyeluruh. Sehingga fungsi penilaian sebagai ruang untuk seleksi, penempatan dan diagnostik dapat terpenuhi secara maksimal. Konsep ini bertaut utuh dengan usaha peningkatan kualitas pendidikan yang dapat dilakukan melalui peningkatan kualitas pembelajaran dan kualitas sistem penilaian. Keduanya saling terkait, sistem pembelajaran yang baik akan menghasilkan kualitas belajar yang baik juga. Pada gilirannya, sistem penilaian yang baik akan mendorong guru untuk menentukan strategi mengajar yang baik dan memotivasi anak untuk belajar yang lebih baik lagi.

 

Sehubungan dengan itu, dalam pembelajaran dibutuhkan guru yang tidak hanya mampu mengajar dengan baik tetapi juga mampu melakukan evaluasi dengan baik pula. Evaluasi yang tidak hanya bertumpu pada penilaian hasil belajar, tetapi juga evaluasi terhadap input, output maupun kualitas pembelajaran. Selama ini sebagian besar guru hanya mengikuti apa yang ada di dalam buku. Padahal dalam kenyataannya, yang tertulis dalam buku pelajaran dan pelaksanaan pembelajaran dalam kelas baik di sekolah maupun di perguruan tinggi proporsi terbesarnya adalah “pengetahuan”, sedangkan keterampilan proporsinya lebih kecil, apalagi sikap/karakter. Sementara penilaian pembelajaran menghendaki penilaian menyeluruh meliputi kognitif, afektif dan psykomotor. Pada kondisi ini, evaluasi memegang peranan penting agar guru mengetahui lebih lanjut kondisi siswa, terlepas dari pemanfaatan hasil evaluasi, apakah untuk meng-eskplore siswa berdasarkan pengetahuan, bakat, karakter atau dasar lainnya.

 

Dibutuhkan keseriusan untuk benar-benar dilakukannya sinkronisasi suasana batin kurikulum dengan apa yang termuat di buku pelajaran, karena hampir semua guru menjadikan buku ajar sebagai “kitab suci” yang tak terbantah. Dengan sinkronisasi mendalam, melibatkan para pakar dan praktisi pendidikan akan dapat mengatasi masalah assessment for learning dan assessment of learning. Setidaknya proses pembelajaran yang berkualitas tidak akan berbeda jauh hasilnya dengan ujian di akhir program pembelajaran. Artinya ujian nasional tidak perlu dimasalahkan, hanya perlu diperbaiki apa yang harus dan tidak harus untuk diuji. Apakah yang diuji sesuai bakat anak atau semua mata pelajaran. Jika hanya salah satu aspek yang diuji, akan bermuara pada laporan kemajuan hasil belajar anak. Misalnya, anak diuji sesuai bakat maka sejak dini harus dilakukan test bakat yang baik, kemudian diuji secara nasional sesuai bakat masing-masing. Nah, bagaimana dengan ijazah anak jika hanya bakat yang akan diuji, apakah akan lulus dan hanya dapat melanjutkan ke jurusan sesuai bakat masing-masing?

 

Intinya, dengan melakukan evaluasi yang baik pada proses dan akhir pembelajaran, guru dan lembaga pendidikan akan dapat memahami banyak hal tentang anak didiknya. Tidak hanya tingkat pengetahuan anak, tetapi termasuk minat dan bakat. Hasil inilah yang perlu dikembangkan guru dan wali murid dalam membina anak didik lebih lanjut dan juga untuk mengarahkan anak (jika melanjutkan pendidikan) sesuai pengetahuan, minat dan bakatnya.

Semoga tetap dapat berupaya memberikan yang terbaik untuk pendidikan Lombok Utara…

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *