Teachers Learning Network: Solusi Peningkatan Kualitas Guru Pascabencana

DIKPORA – Rangkaian bencana alam gempa bumi yang melanda wilayah Nusa Tenggara Barat (terutama wilayah Kabupaten Lombok Utara) secara beruntun sejak 29 Juli 2018 berdampak pada kerusakan infrastruktur yang tidak ringan. Ribuan jumlah bangunan yang rusak parah, sedang dan ringan mengindikasikan tingginya skala Richter yang mampu dicapai tenaga geologi tersebut. Effect guncangan tektonik beruntun itu pun menyisakan trauma sampai saat ini pada ribuan korban jiwa. Jika menghitung kerugian material dari seluruh kerugian yang dialami, akan sangat sulit menemukan angka pasti. Terlebih, labilnya kondisi psykologis tidak dapat disepadankan dengan hal lain selain kenyamanan. Untuk memperoleh hal tersebut kembali seperti kondisi semula, membutuhkan kemauan dan perjuangan untuk bangkit.

 

Berbicara dalam dua perspektif dimaksud, kondisi infrastruktur dan psykologis, dapat dikatakan bahwa sektor pendidikan merupakan sektor yang terdampak paling serius. Hampir semua bangunan lembaga pendidikan yang berada di wilayah Lombok Utara (275 sekolah, tidak mencakup PAUD dan Madrasah) hancur, termasuk merusak semua meublair yang ada sehingga tidak dapat dipergunakan lagi oleh peserta didik. Angka ini meliputi 1117 ruang kelas dan 407 ruangan pendukung seperti laboratorium dan lainnya. Muara logis kondisi tersebut, sebanyak 23.822 orang peserta didik pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar dan 7.304 orang peserta didik jenjang Sekolah Menengah Pertama harus tinggal di daerah pengungsian yang sebagian besar jauh dari lokasi sekolah. Otomatis, siswa tidak dapat mengikuti pembelajaran dalam beberapa waktu. Demikian halnya dengan pendidik, tidak dapat melaksanakan kewajiban secara maksimal. Selain karena kerusakan infrastruktur, kondisi psykologis yang sangat labil juga tidak memungkinkan untuk melaksanakan pembelajaran.

 

IMG-20181224-WA0022
IMG-20181224-WA0005
IMG-20181223-WA0044
IMG-20181222-WA0039
IMG-20181222-WA0036
IMG-20181222-WA0032
IMG-20181222-WA0031
IMG_20181223_102040
IMG_20181223_102035
IMG_20181223_094428
IMG_20181222_141713
previous arrow
next arrow

Saat ini pun kegiatan pembelajaran belum dapat diselenggarakan secara maksimal. Masih banyak lembaga pendidikan yang mengadakan kegiatan di bangunan seadanya (sekolah sementara). Peserta didik pun belajar secara duduk lesehan (tanpa bangku dan meja) dengan perlengkapan belajar yang jauh dari kategori memadai. Hal yang patut dibanggakan saat ini adalah kemauan dan komitmen bersama elemen pendidikan di Lombok Utara untuk bangkit bersama dan menata puing sisa yang masih dapat dimanfaatkan. Pendidik melaksanakan kewajibannya dalam pembelajaran sambil menggiring anak untuk menerima dan membiasakan diri dengan “sekolah alam” (sekolah tanpa gedung, meja dan bangku seperti biasa). Harus diakui bahwa tugas pendidik di Lombok Utara semakin berat. Selain harus menyampaikan materi pelajaran yang wajib, juga harus membantu peserta didik keluar dari rasa traumatis sekaligus mengajak anak mulai mengenal alam dan bencana alam sejak dini. Peran ganda ini mengharuskan pendidik untuk jauh lebih kreatif dari sebelumnya. Tugas berat ini patut diapresiasi dan diupayakan solusi agar dapat berjalan sistematis dan profesional.

 

Banyak upaya yang sudah dilakukan pemerintah daerah dan pihak lain, termasuk mengadakan sekolah darurat. Beberapa waktu terakhir ini sudah mulai dibangun sekolah semi permanen dan permanen. Pada perkembangannya, peserta didik sudah mulai mengikuti pembelajaran meskipun belum maksimal dan dalam kondisi yang masih sangat terbatas. Upaya ini juga didukung oleh banyaknya kegiatan untuk memulihkan kondisi psykologis anak. Hal yang kemudian nyaris dilupakan adalah bagaimana memformat pembelajaran yang menyenangkan untuk anak sesuai kondisi yang ada saat ini. Pembelajaran yang tidak menyulitkan bagi peserta didik dan juga guru, karena keterbatasan sarana dan prasarana. Untuk itu dibutuhkan langkah konkrit untuk (1) memformat pembelajaran yang menarik dan memudahkan dalam kondisi pascabencana (berbasis IT); (2) mengadakan pengembangan kurikulum yang bermuatan mitigasi bencana; (3) mengupayakan lahir dan terbentuknya SIPENA (siswa peka bencana) dan (4) mengadakan peningkatan kapasitas berbagai alternatif usaha ekonomi kreatif untuk pemuda.

 

Langkah yang mulai diupayakan adalah melakukan peningkatan kapasitas guru dengan membentuk Teachers Learning Network, bekerjasama dengan LEARN Indonesia, Atma Connect dan Education Community NTB. Bertempat di kediaman Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga aktivitas perdana berlangsung pada tanggal 22-23 Desember 2018. Kegiatan dilakukan dengan melibatkan 80 sekolah jenjang Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama sebagai pilot project untuk penyelenggaraan peningkatan kapasitas yang melibatkan guru dan operator sekolah. Pendampingan terhadap 80 sekolah utama ini diharapkan dapat memberikan pengaruh terhadap sekolah lainnya (sekolah imbas) untuk melakukan hal serupa. Terkait dengan point pertama (1) di atas, hal tersebut sangat mungkin untuk dilakukan mengingat kemampuan infrastruktur IT di Kabupaten Lombok Utara cukup memadai. Untuk kegiatan kedua dan seterusnya akan dilaksanakan dalam beberapa waktu mendatang.

 

Terobosan dalam bentuk Teachers Learning Networks dimaksud dirancang dan mengarah kepada upaya menjawab tantangan peningkatan profesionalisme guru secara massif, efektif, terfokus dan efisien guna menciptakan guru yang profesional sesuai standar pendidik yang berkembang untuk era 4.0 dewasa ini yaitu guru kreatif, inovatif, komunikatif dan juga mampu bekerja secara kolaboratif. Massif maksudnya bahwa kegiatan yang akan dilakukan melalui Teacher Learning Network dapat menjangkau semua lapisan guru secara menyeluruh tanpa terkecuali. Efektif bermaksud bahwa kegiatan yang akan dilakukan diyakini dapat mencapai tujuan yang ditetapkan untuk meningkatkan kualitas guru. Terfokus mengarah kepada upaya melaksanakan kegiatan sesuai dengan kondisi real pendidik di Kabupaten Lombok Utara. Dan efisien mengarah pada upaya pemenuhan tujuan dengan meminimalisir biaya, tenaga dan waktu dalam upaya mendapatkan hasil yang maksimal. Mengingat kondisi Lombok Utara yang masih sangat prihatin.

 

Kegiatan peningkatan kapasitas yang dilakukan dengan pendekatan Teacher Learning Network dapat dilakukan dalam berbagai bentuk seperti seminar, workshop, kelompok diskusi maupun loka karya dengan berbagai fokus kegiatan. Kegiatan pertama yang dilakukan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Lombok Utara bersama Atma Connect dan Lembaga Education Community NTB adalah membuat desain weblog sekolah masing-masing. Hal ini dilakukan dengan maksud agar peserta didik dapat mengakses pembelajaran dari berbagai tempat (mudah dan murah). Termasuk dalam kegiatan lain dari Teacher Learning Network ini adalah pelatihan dan diklat umum maupun diklat berjenjang yang meliputi diklat berjenjang tingkat dasar, lanjut dan mahir (untuk pendidik PAUD). Bentuk fleksibel lain dari Teacher Learning Network adalah kegiatan yang dilakukan dapat berasal dari, oleh dan untuk guru di tingkat lembaga, guru antarlembaga pendidikan dalam satu desa dan kecamatan, guru antarmata pelajaran dari satu sekolah hingga tingkat kabupaten dengan melibatkan dan bekerjsama dengan stakeholder. Sistem ini pun bersifat terbuka yang dapat dilakukan baik secara virtual class maupun off-line (tatap muka). Dengan cara ini maka upaya akselerasi peningkatan kualitas guru dapat dilakukan secara massif, mudah, efktif dan efisien dengan hasil yang tidak jauh berbeda dengan sistem peningkatan kualitas guru yang sudah dilaksanakan sebelumnya (sebelum bencana).

 

Berbagai upaya dilakukan dengan satu harapan agar pendidikan di Kabupaten Lombok Utara dapat terselenggara lebih maksimal lagi. Bencana bukan alasan untuk berdiam diri dan tidak melakukan perubahan (terobosan dan inovasi) dalam bentuk apa pun. Perkembangan kondisi zaman (yang menggerus serta dunia pendidikan di dalamnya) tidak dapat dihadapi dengan terus terusan bersedih. Pendidikan adalah ujung tombak perubahan, parameter utama dan pertama berhasil dan tidaknya peningkatasn kualitas pada suatu daerah (wilayah, bahkan negara). Pendidikan juga berurusan dengan jiwa para generasi pembangun bangsa di kemudian hari. Generasi yang akan berperan dominan sebagai agent of change. Jadi, mengurus dunia pendidikan tidak dapat disepadankan dengan mengurus bidang lainnya. Harus dilakukan sepenuh hati, serius dan profesional.

 

Semoga bermanfaat untuk Lombok Utara yang lebih baik.

# FF

3 Replies to “Teachers Learning Network: Solusi Peningkatan Kualitas Guru Pascabencana”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *