SERAGAM BARU DI DIKPORA KLU, MENGGUNAKAN PAKAIAN ADAT

DIKPORA – Sejak hari ini (Kamis, 05 September 2019) pegawai di lingkungan Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Lombok Utara mengenakan pakaian seragam baru yaitu pakaian adat lengkap. Dengan kebijakan baru ini semua pegawai DIKPORA Lombok Utara mengaku tidak menglami kesulitan untuk mengenakannya dan tidak membutuhkan persiapan khusus untuk itu mengingat pakaian adat seperti yang disyaratkan sudah sering kali dikenakan dan mereka sudah memilikinya dari awal. Jadi tidak ada kesulitan. Di sisi lain, pegawai DIKPORA Lombok Utara merasa sangat santai dan menikmati suasana baru dengan seragam yang berbeda dari biasanya. ”Persiapan seperti biasa-biasa saja, hanya pakaiannya saja yang beda. Jadi, saya mendukung kebijakan itu karena ini untuk melestarikan budaya,” ungkap Nurman, M.Ag (Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga pada DIKPORA Lombok Utara). Sebelumnya Nurman mengaku berpikir akan kerepotan dengan mengenakan pakaian adat. ”Ternyata setelah dijalani, ya asyik-asyik saja” tandasnya sambil tersenyum. Dan berharap agar semua OPD (Organisasi Perangkat Daerah) di Kabupaten Lombok Utara mengikuti inovasi yang dilakukan oleh DIKPORA untuk menjaga kelestarian budaya. Untuk sementara, beberapa sekolah sudah mengikuti apa yang dilakukan oleh DIKPORA seperti di SD Negeri 2 Pemenang Barat.

 

Kepala Dinas DIKPORA Lombok Utara, Dr. Fauzan, M.Pd. pada kesempatan pertama mengenakan pakaian adat untuk urusan formal di lingkup dinas yang dinakhodainya ini menyampaikan bahwa selain untuk menjaga kelestarian budaya Lombok Utara, langkah ini ditempuh juga dengan maksud untuk menumbuhkan kecintaan terhadap budaya dan adat Lombok Utara. Juga untuk penghargaan kepada kearifan lokal dan sekaligus membantu pertumbuhan industri tenun Sasak Lombok Utara. Dalam  konteks makna, inovasi ini dapat dipahami sebagai bagian dari upaya untuk memaksimalkan makna keagungan dan kesopanan dalam arti yang luas. Mengingat peran dan fungsi dari pegawai di institusi pemerintah sesungguhnya adalah untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara luas sesuai dengan TUPOKSI masing-masing. Kepala Dinas menjelaskan lebih lanjut “Upaya ini akan dimulai pertama kali dari busana, kedua bahasa dan harapannya akan merembet pada perilaku. Sopan santun dan tutur kata selalu terjaga. Kinerja juga harus terus membaik sebagai wujud tanggung jawab,” jelasnya.

 

Fauzan kemudian menerangkan bahwa pakaian adat tradisional merupakan pakaian yang sudah dipakai secara turun-temurun dan merupakan salah satu identitas yang dapat dibanggakan para pendukung kebudayaan. Disamping itu, atribut yang digunakan pada seperangkat pakaian adat dapat menyampaikan pesan mengenai nilai budaya yang terkandung di dalamnya, jadi untuk menggunakan pakaian adat memiliki aturan tertentu, mengingat pakaian yang melekat pada diri seseorang dapat dijadikan cermin jiwa dan watak seseorang. Untuk seperangkat pakaian adat Sasak di Lombok Utara khusus laki-laki biasanya terdiri dari sapuk/sapuq, begolan/dangdang/tampet, selewoq poto, leang/dodot, lempot umbak dan menggunakan aksesoris berupa keris. Dan semua bagian tersebut memiliki makna filosofi tersendiri. DIKPORA sebagai institusi yang bertanggungjawab terhadap perkembangan pendidikan menerapkan ini sesuai dengan landas pijak penyelenggaraan pendidikan di Lombok Utara yaitu Kembali ke Khittah Pendidikan khususnya pada pemaknaan terhadap nilai budaya.

 

Umumnya pada pakaian adat laki-laki Sasak di Lombok Utara mengenakan ikat kepala yang disebut sapuk/sapuq. Ikat kepala ini secara umum merupakan mahkota yang melambangkan kejantanan dan mewajibkan penggunanya untuk selalu bersikap sportif. Menggunakan sapuq pun memiliki aturan tersendiri seperti simpul ikatan sapuq merupakan simbul lam-alif yang bermakna hablum minallah (hubungan kepada Allah SWT dengan segala bentuk tugas dan tanggungjawab). Ikatannya sapuq sendiri bermakna agar penggunanya selalu menjaga pikiran dari hal yang negatif (kotor). Kemudian ujung sapuq harus menghadap ke bawah yang bermakna bahwa siapa pun yang menjadi pemimpin harus selalu melihat ke bawah (keadaan masyarakat di bawahnya).

 

Gambar mungkin berisi: 14 orang, orang tersenyum, orang berdiriBaju adat Sasak untuk laki-laki disebut begolan/dangdang/tampet (umumnya berwarna hitam) yang memberikan gambaran tentang keagungan dan kesopanan yang harus dijunjung tinggi oleh penggunanya. Warna hitam mengisyaratkan kesejahteraan. Sebagai bawahannya digunakan kain yang disebut selewoq poto yang bermakna bahwa kehidupan yang harus dilalui seorang makhluk, dimana ujung selewoq selalu mengarah ke bawah yang diartikan bahwa manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah setelah melalui proses hidup (dilambangkan dengan lipatan pada selewoq). Kelengkapan lainnya adalah kain leang/dodot yang mengantarkan kita pada pemahaman bahwa kehidupan yang dijalani oleh manusia terdiri dari 4 hal (4 sudut leang) yaitu syariat, tarekat, hakekat dan ma’rifat-nya sebagai manusia. Satu sudut leang dimunculkan ke depan di antara sela baju yang bermakna bahwa penggunanya harus menyampaikan hal yang baik (terutama tentang 4 hal) dengan hati yang tulus ikhlas kepada masyarakat luas walau pun sedikit.   

 

Atribut lain yang sering diabaikan adalah pemasangan asesoris berupa keris, disebut jurang rantas. Merupakan warning kepada penggunanya bahwa penggunaan asesoris tidak dengan tujuan untuk melakukan tindak kekerasan, tetapi lebih kepada untuk kebutuhan sosial. Keris ini juga merupakan lambang tanggungjwab seorang laki-laki terhadap diri, keluarga dan orang banyak yang sudah dibebankan sejak akil baliq. Dengan demikian, anak lelaki yang belum baliq sebaiknya tidak menggunakan aksesoris keris dalam memakai pakaian adat atau menggunakan keris tiruan untuk mencegah hal yang tidak diinginkan atau ruang untuk belajar bertanggungjawab.

 

Gambar mungkin berisi: Budi Amala dan MunawirSazali, orang tersenyum, orang berdiri dan dalam ruanganSedangkan lempot umbak digunakan baik oleh laki-laki maupun perempuan. Untuk laki-laki merupakan lambang identitas bagi penggunya. Identititas ini dapat dikaitkan dengan status pernikahan. Untuk laki-laki yang sudah menikah maka penggunaan lempot umbak-nya mengarah ke kanan dan dibuka lebar. Sementara untuk laki-laki yang belum menikah mengarah ke kiti dan dilipat menjadi dua (tidak dibuka lebar). Semoga nilai ini bisa kita jiwai dan implementasikan bersama. Aamiin …

 

 

&&& FF &&&

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *