PENDIDIKAN, AGENT OF CHANGE MENUJU MASYARAKAT MADANI

DIKPORA – Indonesia dewasa ini adalah Indonesia yang dinamis, Indonesia yang terus berkembang dan berubah di semua bidang kehidupan. Perubahan pesat dan signifikan ini telah membawa perubahan sosial yang diiringi transformasi pengetahuan dan perkembangan teknologi. Karenanya, masyarakat tidak dapat menghindar dari sebuah perubahan sosial. Sejatinya tidak ada suatu masyarakat pun yang tidak berubah. Perubahan di masyarakat setidaknya melibatkan tiga faktor utama, yaitu kebutuhan akan demokratisasi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta globalisasi. Demokratisasi menjadi sangat berpengaruh mengingat masyarakat sudah menjadi tanpa sekat (society era 5.0 versi Jepang), saling berpengaruh, membutuhkan sekaligus kompetitif. Landas utuh kebutuhan terhadap demokratisasi adalah kemauan masyarakat memperoleh kehidupan layak sesuai hak. Tentu saja sedapat mungkin dengan cepat dan memudahkan. Rangkaian simpul logis ini memperkuat argumen tentang urgensi kemajuan teknologi, didukung sifat dasar manusia yang ingin mengetahui segala sesuatu lebih mendalam. Pilihannya, masyarakat dituntut mampu beradaptasi, jika tidak tentu akan menjadi bulan-bulanan globalisasi dengan sekian varians-nya.

 

Pendidikan tentu saja berperan penting dalam menghadapi perubahan. Pendidikan memberikan arahan bagaimana menyikapi perubahan agar dapat dilalui dengan baik dan dijadikan sebagai landasan mewujudkan pembangunan masyarakat. Dengan catatan, apabila pendidikan menjadi pilar utama perubahan. Dengan dalih ini, maka wajar jika perhatian terhadap pendidikan lebih dominan. Bidang lain akan berkembang dengan sendirinya jika pendidikan sudah terlebih dahulu baik. Nurcholish Madjid (2002) menyarankan agar pemimpin memiliki kesadaran tinggi terhadap pendidikan sehingga dapat menjadi ogent of change bagi masyarakat di tengah perubahan global. Sementara dalam lingkup terbatas, melalui praktik pendidikan, peserta didik diajak memahami bagaimana sejarah atau pengalaman budaya dapat ditransformasi dalam kehidupan yang akan mereka jalani serta mempersiapkan mereka menghadapi tantangan dan tuntutan di dalamnya. Masalahnya, makna pengetahuan dan kebudayaan sering kali dipaksa untuk dikombinasikan karena pengaruh zaman terhadap pengetahuan jika ditransformasikan.

 

Esensi tujuan pendidikan nasional adalah proses menumbuhkan bentuk budaya keilmuan, sosial, ekonomi dan politik yang lebih baik dalam perspektif tertentu harus mengacu pada masa depan yang jelas (UUD 1945 alinea 4). Melalui kegiatan pendidikan, gambaran tentang masyarakat yang ideal dituangkan dalam alam pikiran peserta didik sehingga terjadi proses pembentukan dan perpindahan budaya. Pemikiran ini mengandung makna bahwa pendidikan sebagai tempat pembelajaran manusia memiliki fungsi sosial (agen perubahan di masyarakat). Dengan pendidikan setiap individu akan mengelola dirinya untuk dapat eksis di tengah lingkungan yang sangat bervariasi sehingga terjadi koordinasi yang baik bagi lingkungannya. The school has the function also of coordinating within the disposition of each individual the diverse influences of the various social environments into which he enters, kata Dewey.

 

Isu mengenai pentingnya pendidikan sebagai agent of change menjadi sangat penting untuk didiskusikan mengingat pendidikan dewasa ini membutuhkan perhatian esktra dari semua elemen. Satu faktor penyebab terpuruknya kehidupan politik dan ekonomi adalah diabaikannya pendidikan sebagai wahana menunjang transformasi budaya menuju tegaknya negara kebangsaan yang berperadaban tinggi. Soedjiarto secara lantang menyampaikan bahwa pendidikan belum sepenuhnya berfungsi sebagai wahana transformasi budaya. Mengingat proses pendidikan yang berlangsung di lembaga pendidikan belum dapat memaksimalkan proses pembudayaan berbagai kemampuan, nilai dan sikap sebagai masyarakat yang merdeka, demokratis dan berkeadilan sosial.

 

Seperti daerah lain di Indonesia pada umumnya, Kabupaten Lombok Utara juga bagian yang tidak terpisah dari masyarakat dunia. Tentu saja mengalami pengaruh demokratisasi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta globalisasi. Dengan fenomena tersebut, maka masyarakat Lombok Utara harus mampu beradaptasi dengan segala bentuk perubahan sosial dunia. Bermodal semua sistem yang ada, peluang harus dikejar dan menjadi tantangan mewujudkan masyarakat Lombok Utara seutuhnya. Masyarakat yang memiliki jatidiri, mampu hidup dan berkembang sesuai perkembangan dunia tanpa meninggalkan nilai daerah. Meski, tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini Lombok Utara sedang dihadapkan pada berbagai macam persoalan, khususnya pascabencana, di mana masalah politik, ekonomi dan sosial menjadi seteru yang harus diatur rapi agar tidak menimbulkan polemik. Membina atau membangun masyarakat pascabencana bukan perkara mudah. Akan ada masa transisi yang dapat mempengaruhi banyak hal, apabila tidak dihadapkan dengan pendidikan. Maka, wajib disadari sepenuhnya bahwa semua elemen pendidikan harus mengupayakan konstruksi bangunan pendidikan dapat berdiri tegak guna menjawab tantangan masa depan. Konstruksi dimaksud menurut Bruner adalah research and development, unpredictable service and the arts.

 

Pernyataan Bruner tersebut mengindikasikan bahwa pendidikan harus mampu memberikan manfaat kepada semua orang karena masyarakat dunia sekarang adalah masyarakat tanpa batas di tengah gempuran teknologi informasi dan proses globalisasi. Dengan demikian, masyarakat Lombok Utara yang terdidik adalah masyarakat yang mampu hidup selaras bersama-sama dengan masyarakat yang lain serta alam sekitarnya. Masyarakat yang memiliki pengetahuan luas, hubungan yang luas, wawasan yang besar terhadap dunia dan alam sekitarnya. Dari sinilah peran signifikan pendidikan. Pendidikan harus mampu membangun masyarakat pebelajar yang ingin mengetahui semua hal, kemudian mengaplikasikan yang diketahuinya untuk kebaikan bersama. Semoga ……

 

FF, 110719

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *