MEMBELA MARWAH GURU

DIKPORA – Pendidik atau yang lazim disebut guru secara umum dapat dipahami sebagai seseorang yang telah mengabdikan dirinya untuk mengajarkan suatu ilmu, mendidik, mengarahkan dan melatih muridnya agar memahami ilmu pengetahuan yang diajarkannya tersebut. Penggalan kalimat tersebut cukup kuat sebagai dasar pikir logis untuk mengatakan bahwa tugas guru (meskipun hanya meliputi 5 hal) sangat penting dalam proses menciptakan generasi penerus yang berkualitas, baik secara intelektual maupun akhlaknya. Artinya, di pundak pendidik terletak tanggung jawab yang amat besar dalam upaya mengantarkan peserta didik kearah tujuan pendidikan yang dicita-citakan. Tidak dapat dipungkiri, mengingat pendidikan merupakan cultural transition yang bersifat dinamis kearah perubahan yang bersifat kontinyu, sebagai sarana vital bagi upaya membangun kebudayaan dan peradaban umat manusia. Lebih luas lagi, pendidik bertanggungjawab memenuhi kebutuhan peserta didik, baik spiritual, intelektual, moral, estetika dan kebutuhan fisik peserta didik.

 

Dewasa ini, ketika dunia Indonesia dinyatakan memasuki era 4.0 (berbeda dengan Jepang yang sedanag bersiap memasuki era society 5.0) dengan generasi millenialnya, tentu diiringi sejumlah tugas pendidikan yang tidak mudah. Dalam konteks pendidik, mereka harus membangun benteng pertahanan yang kuat dari arus cold-war kemajuan teknologi, penguasaan peserta didik terhadap teknologi yang tersaji dan pendidikan karakter (dengan bonus perkembangan karakter anak). Beragamnya menu yang disajikan berbasis IT (melalui tayangan pada berbagai media) yang dapat dikonsumsi anak dari berbagai usia menambah berat tugas pendidikan. Di tahun 2016 saja, berdasarkan data yang dirilis oleh Kementerian Kominfo dalam konferensi pers Anugerah Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menyebutkan bahwa tayangan edukatif yang ada di seluruh televisi Indonesia tidak mencapai 1 %. Hal ini kemudian dibenarkan oleh Seto Mulyadi (pemerhati anak) yang menyatakan bahwa hanya 0.07% tayangan di televisi yang mendidik. Keterangan lain yang cukup mengkhawatirkan adalah sekitar 60% siswa dinyatakan pernah melihat tayangan pornografi yang dapat mereka saksikan melalui berbagai media. Fenomena ini tentu sangat menyakitkan bagi pada pendidik !!!

 

Lantas di 2019 bagaimana? Baru-baru ini publik pendidikan disuguhkan iklan yang luar biasa menyakitkan hati pendidik. Sehingga tidak sedikit yang melakukan protes melalui ragam media yang mereka miliki. Ya, iklan GAME HAGO. Dalam iklan tersaji tayangan tentang “seorang guru yang sedang menulis materi pelajaran di papan tulis. Semua siswa dengan terkantuk-kantuk terpaksa mengikutinya, karena takut jika si guru marah kalau tidak diikuti mencatat materi tersebut. Tiba-tiba datanglah seorang siswa yang terlambat. Si guru killer tersebut langsung berubah ekspresinya, yang tadinya pasang tampang sok galak, tiba-tiba melunak. Lalu, segera menghampiri anak yang terlambat tersebut dengan sikap seperti seorang pembantu. Badannya dibungkukkan, tanda sangat menghormati murid tersebut, lalu tasnya ia bawakan. Dan si anak dipersilakan duduk di kursinya sambil dengan posisi membungkuk-bungkukkan badan seperti seorang jongos pada tuan mudanya. Si anak dengan santainya duduk dengan “songong”nya, karena dagunya ia angkat, tanpa berkata apa-apa. Persis anaknya si ituh yang dagunya diangkat mulu. Semua teman-temannya langsung melihat ke arahnya dengan mulut ternganga-nganga karena takjub, kok si guru killer bisa tunduk padanya. Pengen tau kenapa? Karena si anak itu jago maen games online dan si bapak guru itu lawan mainnya. Ending iklannya: si anak songong itu main games online dengan guru sangar tersebut di taman sekolah” (seperti ditulis oleh Rina Maruti pada  laman fasebook MEDIA GURU INDONESIA). Iklan yang juga masih dapat ditonton pada channel youtube mendapat banyak penolakan dari masayarakat. Terbukti iklan ini hanya mampu mengumpulkan 7 like dan 246 dislike. Pada kolom komentar pun, publik beramai-ramai menolak iklan dimaksud dan kompak menyatakan bahwa iklan GAME HAGO telah melecehkan guru. Hingga terbit petisi untuk menolak iklan HAGO dan desakan agar pihak HAGO meminta maaf kepada publik termasuk menghentikan iklan dimaksud, sudah disetujui 2967 orang (pada saat artikel ini ditulis).

 

Tayangan ini memberi gambaran bahwa hingga era 4.0, profesi guru/pendidik dengan tugas berat yang diemban belum sepenuhnya dihargai oleh berbagai pihak. LOLOS SENSOR-nya berbagai tayangan yang dinilai tidak edukatif pun mengundang pertanyaan, seberapa serius para pihak mendukung pendidikan terutama pengembangan pendidikan karakter di Indonesia? Hal yang harus dipahami bersama adalah tugas guru sangat mulia dan untuk melaksanakannya tidak mudah. Menjadikan orang yang tidak tahu menjadi tahu, tidak bisa menjadi bisa dan mengembangkan kepribadian seorang anak serta membantu dalam tahap pencarian jati diri membutuhkan keahlian khusus dan keyakinan dalam diri yang tidak dimiliki setiap orang.

 

Dalam hal ini, control orang tua sebagai pendidik pertama dan utama dikeluarga sangat penting dalam membentuk karakter anak menjadi baik. Hal inilah yang menjadi tanggung jawab setiap orang tua untuk menjaga anak agar selalu dalam didikan yang baik. Salah satunya dengan mengawasi anak agar tidak menonton tayangan atau bermain games yang tidak bermanfaat dan merusak keperibadian anak. Orang tua disini harus cerdas memilih dan mengawasi tayangan yang layak dikonsumsi anak-anak. Kedua, pemerintah harus tegas menyikapi munculnya tantangan dan games pada berbagai media yang bersifat tidak mendidik, salah satunya dapat dengan memberikan punishment bagi stasiun televisi (atau media lain) yang melanggar kode etik penayangan televisi atau melanggar aturan yang sudah jelas dalam Undang-undang. Hal ini demi memberikan efek jera bagi para stasiun televisi yang melanggar aturan tersebut. Termasuk melakukan telaah mendalam terhadap hasil kreasi yang akan diluncurkan ke publik sebelum memberikan lisensi. Peran KPI sebagai badan resmi pemerintah juga dituntut untuk terus melakukan evaluasi terhadap tayangan yang ada, mengingat KPI memiliki kewenangan untuk mencabut izin bagi tayangan yang tidak mendidik.

 

Mari menjaga dan membela marwah guru, sebab guru adalah penentu wajah masa depan Indonesia. Di tangan gurulah masa depan bangsa ini ditentukan. Guru merupakan pahlawan pembangunan yang mempunyai kapasitas untuk mencetak generasi penerus bangsa guna mengisi sektor ruang publik. Bukankah peradaban bangsa yang kita nikmati hingga hari ini adalah buah tangan dari keikhlasan para guru mendidik muridnya hingga menjadi orang-orang yang hebat?!.

 

## FF ##

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *