KOORDINASI PELAKSANAAN SPMI DI SDN 2 PEMENANG BARAT

DIKPORA –  Program Sekolah Model SPMI (Sistem Penjaminan Mutu Internal) adalah sebuah program yang dimaksudkan untuk membangun ‘budaya mutu’ sekolah melalui implementasi  SPMI. Program ini melibatkan beberapa sekolah yang ditetapkan sebagai Sekolah Model dan beberapa Sekolah Imbas. Sekolah model ditetapkan dan dibina oleh Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) untuk menjadi sekolah acuan bagi sekolah imbas dalam penerapan penjaminan mutu pendidikan secara mandiri. Sementara Sekolah Imbas adalah sekolah yang berada dalam wilayah binaan yang sama dengan sekolah model yang akan mendapatkan pengimbasan best practice implementasi SPMI dari sekolah model. Sekolah yang ditunjuk sebagai sekolah model diberikan penguatan dan pembinaan untuk mampu menerapkan seluruh SPMI secara sistemik, holistik dan berkelanjutan, sehingga “budaya mutu” dapat tumbuh dan berkembang secara mandiri pada sekolah tersebut.

 

Sekolah SD Negeri 2 Pemenang Barat merupakan salah satu sekolah yang ditunjuk sebagai sekolah model untuk pelaksanaan SPMI. Pada hari ini, Sabtu 27 Agustus 2019 diadakan rapat koordinasi untuk membahas tentang berbagai hal yang terkait dengan pelaksanaan SPMI agar pelaksanaannya menjadi lebih maksimal. Pada rapat koordinasi tersebut Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Lombok Utara, Dr. Fauzan, M.Pd. menyampaikan beberapa hal urgen. Diantaranya adalah penjelasan tentang dasar hukum pelaksanaan SPMI yang merupakan perintah dari Permendikbud Nomor 28 tahun 2016 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP) Dasar dan Menengah. Secara gamblang dijelasskan pada Pasal 1 angka (3) bahwa Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah adalah suatu kesatuan unsur yang terdiri atas organisasi, kebijakan dan proses terpadu yang mengatur segala kegiatan untuk meningkatkan mutu pendidikan dasar dan menengah yang saling berinteraksi secara sistematis, terencana dan berkelanjutan.

 

Penjelasan pada angka (3) di atas kemudian diperkuat pada angka (4) yang menyatakan bahwa Sistem Penjaminan Mutu Internal Pendidikan Dasar dan Menengah yang selanjutnya disingkat SPMI-Dikdasmen adalah suatu kesatuan unsur yang terdiri atas kebijakan
dan proses yang terkait untuk melakukan penjaminan mutu pendidikan yang dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan dasar dan satuan pendidikan menengah untuk menjamin terwujudnya pendidikan bermutu yang memenuhi atau melampaui Standar Nasional Pendidikan.

 

Kepala Dinas juga menekankan kepada semua peserta rapat koordinasi bahwa kunci sukses pelaksanaan SPMI terletak pada bangunan kokoh kerjasama antarsekolah model dan sekolah imbas termasuk individu yang terlibat di dalamnya. Untuk itu setidaknya terdapat 8 elemen penting yang harus menjadi rujukan bersama untuk dilakukan agar SPMI berjalan lancar dan berhasil dengan sukses. Elemen dimaksud adalah (1) sosialisasi SPMI kepada warga sekolah yang melibatkan Fasda (fasilitator daerah) dari unsur pengawas dan tim penjamninan mutu pendidikan sekolah (TPMPS); (2) kepemimpinan kepala sekolah yang kuat; (3) perubahan paradigma warga sekolah; (4) komitmen TPMPS dan warga sekolah; (5) berjiwa pembelajar; (6) memahami setiap tahapan SPMI; (7)  konsistensi dalam pelaksanaan SPMI dan (8) pembinaan yang optimal dari TPMPD. Pelaksanaan SPMI juga terkait utuh dengan Gerakan Kembali ke Khittah Penidikan yang menjadi konsep dasar penyelenggaraan pendidikan di Kabupaten Lombok Utara. Setidaknya terdapat 6 hal penting yaitu (1) sadar budaya mutu; (2) kolaborasi dan sinergi; (3) berjiwa pembelajar; (4) kerja keras; (5) komunikasi yang efektif dan (6) berjiwa reflektif.

 

Pada akhir sambutannya, Kepala Dinas kembali mengingatkan kepada seluruh peserta “Sekolah model SPMI harus menerapkan seluruh siklus penjaminan mutu secara sistematik, holistik dan berkelanjutan. Sehingga budaya mutu tumbuh dan berkembang secara mandiri pada sekolah model tersebut,” kata dr. Fauzan dalam sambutannya. Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga dan sekolah model, harus bersama-sama melakukan pemetaan mutu pendidikan, yang didukung oleh pengawas pembina sekolah. Serta bantuan fasilitator daerah yang secara khusus dapat menambah sekolah model atau sekolah imbas baru. Sekolah model tidak dapat berjalan dengan baik dan mencapai tujuannya tanpa peran serta atau dukungan seluruh stakeholder”. Semoga semua berjalan dengan baik sesuai harapan. Aamiin

 

&&&FF&&&

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *