COMFORT ZONE

DIKPORA – Dalam perjalanan hidup, orang sering berhenti lama dalam comfort zone, lazim dipahami sebagai zona nyaman. Kita kerap menyukai zona nyaman, karena zona ini menimbulkan situasi psikologis where we feel safe, warm and dry. Tapi, tidak jarang juga orang lalai dalam kesadaran bahwa ketika zona nyaman itu berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama maka akan terdapat hal yang tak bertumbuh, tak berkembang. Atau ada sesuatu yang stagnan, jalan ditempat. Padahal, kehidupan memerlukan sedikit keberanian. Keberanian untuk keluar dari zona nyaman. We need to step outside and be challenged, be frightened, be stimulated. Dengan begitu kita akan merasakan sesuatu yang baru we feel stay young and good about ourselves. Kehidupan baru yang lebih menantang dari sebelumnya. Kehidupan, memang, membutuhkan perluasan baik dalam konteks wawasan, cara berpikir, aspirasi, kebajikan, lingkungan, tata kerja, cara bergaul dan sebagainya. Dengan perluasan semacam itu  dapat dirasakan perubahan konstruktif dalam diri, you feel good about yourself. Ketika perasaan itu terjadi, maka sesungguhnya kita telah diberi ruang gerak yang lebih luas lagi. Ruang yang menjadi pendorong munculnya extra confidence. Walaupun kadangkala ruang gerak itu dapat menimbulkan kekhawatiran, ketakutan, perasaan nervous, karena ada sesuatu yang baru that you never done before. Sesuatu yang akan dijalani dan belum dipahami seutuhnya. Ketidakpahaman ini akan mendorong upaya-upaya baru untuk memperkaya diri dengan berbagai hal yang dibutuhkan sehingga kehidupan menjadi lebih aktif dan dinamis.

 

Dalam perjalanan hidup, sesungguhnya, diperlukan expanding your comfort zone agar kita dapat brings us out of ourselves and keep us learning and growing. Sebab kehidupan layaknya sebuah advertising. Orang sibuk dengan bagaimana mengiklankan diri sendiri, menunggu orang merespon iklan itu dan mendapatkan manfaat dari iklan tersebut. Pada saat yang sama terdapat kecenderungan orang mendorong kehendak dirinya untuk menghabiskan sebagian hidupnya untuk memenuhi panggilan iklan tersebut. Sementara itu, sebagian lagi dari kehidupan itu dibiarkan berjalan apa adanya. Kehidupan yang menyerupai iklan telah membelah episode perjalanan hidup kita. Di satu sisi, kita acap kali membiarkan kehidupan kita “dibelah” oleh kehendak medapatkan reward, baik berupa penghargaan, tepuk tangan, sorak-sorai, puja puji, prevelege, penghormatan dan sebagainya. Kita terjebak dengan kehendak bahwa your efforts will be rewarded eventually, tapi pada saat yang sama you’ll probably never know which effort are being rewarded. Kita tak memahami makna tepuk tangan dan sorak sorai tersebut. Semuanya dibiarkan berlangsung dengan rutin, terus menerus, seolah tak ada ruang sedikitpun tempat kita mengambil jeda, tak ada sebuah little space for yourself.

 

Dalam perjalanan kehidupan, a little quality time each day for yourself merupakan sebuah periode penting, bahkan sekalipun kita berada dalam kesendirian. Kesendirian atau menjadi diri sendiri adalah masa yang diperlukan untuk melakukan refleksi, peduli dengan diri kita sendiri, sehingga kita bisa meninggalkan sedikit waktu untuk diri kita sendiri. Waktu merenungi kehidupan, selfish. Seorang Soekarno pun, dalam suatu kesempatan pernah menyampaikan bahwa ada saatnya kita membutuhkan kesendirian bersama angin, menceritakan seluruh rahasia. Dalam waktu yang sedikit itu, dapat dilakukan sesuatu untuk meletakan diri sebagai the captain, the engine, the driving force, the motivator, the rock. Agar dapat menambah energi sendiri atau mencari inspirasi untuk diri sendiri melalui kegiatan refleksi yang dilakukan secara jujur. Refleksi, sejatinya bermanfaat untuk memperkuat jati diri, mencari dan menumbuhkan inspirasi dengan lebih banyak mendengarkan kata hati. Bukan melampiaskan maunya hati. Tanpa sadar, kita sering memikirkan hal yang seharusnya tidak perlu dipikirkan. Di situlah kita butuh sendiri agar dapat bicara pada hati, bicara pada nurani. Dalam aturan kehidupan dinyatakan bahwa you need that time to regenerate, renew, invigorate yourself. You need that down time to recharge and repair agar kita bisa kembali fresh, bugar, damai, tenang, bahagia dan sejahtera.

 

Pertanyaan yang selalu muncul adalah bagaimana kita menjedakan diri dan mengisi a little space for yourself itu? Pertanyaan ini tak mudah untuk dijawab, tetapi pertanyaan sepatutnya dapat juga dijawab oleh to ask questions. Bertanya kepada diri sendiri dan sekaligus juga melakukan klarifikasi terhadap situasi yang pernah dialami dalam perjalanan kehidupan. Dalam tata gaul kehidupan, tanpa sadar seringkali kita terlibat dalam beragam masalah. Padahal kita juga memahami bahwa most of the world’s problems laid firmly at the feet of assumption. Kita sering berpikir bahwa kita tahu. Padahal, sesungguhnya kita tak tahu (apa-apa). Kita berasumsi bahwa kita yang mengetahui informasi sesungguhnya, tapi pada galibnya justru kita yang kekurangan atau ketinggalan informasi. Bertanya pada diri sendiri, mempertanyakan diri sendiri merupakan sesuatu yang menjadi sangat penting. Aturan kehidupan menyatakan bahwa questions help clarify the situation. Questions put people on the spot, which means they have to think–and thinking is always a good thing for everybody about everything. Questions help people clarify their though. Pertanyaan dan mempertanyakan perjalanan kehidupan kita membutuhkan jawaban. Sedangkan jawaban memerlukan situasi untuk berpikir sehingga sampai kepada apa yang sering saya sebut sebagai logical conclusion. Kalau begitu, agar dapat mmengetahui perjalanan hidup yang dilalui, diperlukan ask questions of yourself constantly. Ask why you think you’re right–or wrong. Ask yourself why you are doing certain things, want other things. Itulah aturan kehidupan yang memerlukan refleksi. Dan untuk sampai kepada taraf kemampuan seperti itu—berdasarkan pengalaman perjalanan kehidupan—all of this takes a long time to learn. Kehidupan itu sesungguhnya adalah perjalanan untuk belajar menjadi lebih baik. Perjalanan yang masih membutuhkan waktu yang panjang, untuk dapat memahami dengan baik bahwa the most difficult thing in life is a self-defeating. Bahwa hal yang paling sulit dalam sebuah kehidupan adalah mengalahkan diri sendiri.

 

Mari keluar dari comfort zone masing-masing agar dapat me-refresh diri sendiri menjadi lebih baik dari sebelumnya. Semoga kita dapat memanfaatkan waktu itu untuk menyempurnakan pembelajaran (kehidupan) kita, to know where true happiness. Itulah sebabnya ada adigium yang dapat direnungkan untuk menemukan true happiness yakni change what you can change.

 

## Razi Khawarizmi ##

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *