KOMITMEN TERHADAP ORGANISASI

DIKPORA – Komitmen organisasi merupakan keberpihakan seseorang terhadap organisasi, tujuan dan keinginannya difokuskan untuk mempertahankan keanggotaannya dalam organisasi. Frase ini bermakna lebih dari sekedar loyalitas pasif, melibatkan hubungan aktif dan keinginan seseorang untuk memberikan kontribusi positif pada organisasinya. Dalam banyak referensi (Kreitner dan Kinicki), frase ini kerap digambarkan sebagai agreement to do something for yourself, another individual, group or organization. Dengan dasar ini, maka komitmen diidentikkan dengan kesepakatan untuk melakukan sesuatu bagi diri sendiri, individu lain, kelompok atau organisasi. Kesepakatan dimaksud diawali dengan kesadaran akan tugas dan kewajiban yang harus dipenuhi. Hal ini lah yang membuat pegawai merasa terikat dengan organisasi dimana dia bernaung. Komitmen juga terkait erat dengan keinginan seorang pegawai untuk menyatu dengan organisasi dan terlibat secara organisatoris. Dengan landas komitmen yang tinggi seseorang akan dapat berpikir jernih untuk menyetujui keputusan dan memberikan dukungan penuh dalam melaksanakan keputusan organisasi secara efektif guna memenuhi taget pencapaian tujuan organisasi secara maksimal.

 

Komitmen terhadap organisasi juga dapat dipahami dalam bentuk afektif yang didefinisikan sebagai keinginan untuk tetap menjadi anggota organisasi karena ikatan emosional dan keterlibatan terhadap organisasi. Pemaknaan komitmen ke ranah ini mengingat bahwa komitmen berkaitan utuh dengan individu yang merasa bahwa nilai dan tujuan pribadinya sesuai dengan nilai dan tujuan organisasi. Sehingga dapat dikatakan bahwa semakin besar kongruensi antara nilai dan tujuan individu dengan nilai dan tujuan organisasi maka semakin tinggi pula komitmen seseorang pada organisasi. Berkomitmen untuk sebuah organisasi tidak hanya soal “ya atau tidak” atau berapa banyak kita membuat perbedaan tentang “apa” komitmen itu. Tetapi komitmen menyangkut rasa yang diekspresikan pegawai mengenai indentifikasi, loyalitas dan keterlibatan melalui organisasi atau unit organisasi. Sedangkan organisasi adalah entitas sosial yang dikoordinasikan secara sadar dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama. Dengan konsep ini maka posisi dan eksistensi komitmen organisasi menjadi jelas adanya.

 

Salah satu indikator yang dapat dijadikan sebagai parameter untuk mengukur komitmen pegawai terhadap organisasi adalah keberadaan partisipasi dan loyalitas pegawai terhadap organisasi dan pimpinan organiasasinya. Dalam konteks ini komitmen organisasi dinilai sebagai kecenderungan seseorang untuk berpartisipasi aktif dalam sebuah pekerjaan, dimana seorang pegawai/pekerja menyadari bahwa penting bagi dirinya untuk melakukan pekerjaan dan pekerjaan tersebut layak untuk dikerjakan. Termasuk dalam hal ini adalah tentang tingkatan mengenai seberapa jauh seorang pegawai mengidentifikasi dirinya terhadap organisasi tertentu beserta tujuan dan keinginan untuk tetap menjadi anggota organisasi tersebut. Artinya, pegawai memiliki kesadaran penuh terhadap tugas dan kewajibannya serta dapat menyelenggarakan tugas dan kewajibannya dengan penuh tanggung jawab terlepas dari pengawasan pimpinan.

 

Setiap pegawai di suatu organisasi/lembaga harus mempunyai komitmen tinggi dalam bekerja. Organisasi/lembaga yang diisi dengan pegawai yang tidak mempunyai (minim) komitmen dapat dipastikan pencapaian tujuannya akan sulit. Organisasi juga dituntut mempunyai norma yang kuat, sehingga dapat mempengaruhi setiap tindakan yang dilakukan pegawai. Dalam konteks ini, setiap kegiatan dan perilaku anggota organisasi akan menjadi gambaran utuh tentang eksistensi organisasi. Kesadaran dalam bentuk komitmen setiap anggota akan peran, tugas dan fungsinya terhadap organisasi mutlak diperlukan untuk menunjang perkembangan organisasi baik secara langsung ataupun tidak. Kesadaran menyangkut apa yang diperbuat, sesuai bidang pekerjaannya.

 

Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam tubuh organisasi, tidak semua individu akan berfikir dan bersikap sama. Untuk itu pimpinan dan pegawai dapat membuat kesepakatan untuk menciptakan budaya dan iklim organisasi yang baik dan selaras dengan tujuan, nilai dan norma organisasi. Guna mewujudkan keselarasan dalam membangun organisasi maka segala sesuatu yang baik di organisasi dapat dijadikan sebagai tradisi yang terus dipelihara dan dijaga. Pilhannya adalah, aggota organisasi harus benar-benar menyadari bahwa mereka adalah bagian dari yang lainnya, tidak parsial. Bila ada keluhan atau komplain dari pihak luar ataupun dari internal organisasi, maka organisasi harus memiliki prosedur untuk mengatasi keluhan tersebut secara menyeluruh. Unsur yang harus dipegang teguh adalah komunikasi dua arah di organisasi tanpa memandang rendah bawahan. Komunikasi yang efektif antaranggota organisasi akan membuat kegiatan di dalam tubuh organisasi berjalan baik. Hal ini akan berdampak pada kondisi organisasi yang sehat, dimana semua sumber daya organisasi dapat dijadikan sebagai suatu kekuatan. Termasuk anggota organisasi dapat dijadikan sebagai suatu komunitas yang di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, rasa memiliki, kerja sama dan berbagi antaranggota. Kekuatan ini dapat dijadikan social capital bagi komunitas untuk membangun nilai-nilai yang didasarkan adanya kesamaan.

Semoga kita termasuk bagian yang setia menjaga marwah organisasi.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *